Friday, 12 September 2014

Fatwa Ulama: Apakah Membaca Hadits Diganjar Pahala?

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Soal:
Terdapat dalil-dalil mengenai pahala membaca Al Qur’an Al Karim. Namun apakah ada pahala untuk membaca hadits-hadits Nabi?

Jawab:

Iya ada. Membaca semua ilmu (agama), diganjar pahala. Belajar dan menuntut ilmu agama adalah bentuk mengikuti tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah, dan di dalamnya ada pahala yang besar.
Ilmu itu diambil dari Al Qur’an dan As Sunnah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

خيركم من تعلم العلم وعلمه

“sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarinya” (HR. Al Bukhari no. 4639)

Dan telah datang banyak hadits mengenai keutamaan membaca Al Qur’an, diantaranya sabda Nabi Shallalahu’alahi Wasallam:

اقرءوا القرآن، فإنه يأتي شفيعاً لأصحابه يوم القيامة

bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at pada shahibul qur’an” (HR. Muslim no. 1337)

Dan pernah suatu hari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أيحب أحدكم أن يذهب إلى بطحان – وادٍ في المدينة – فيأتي بناقتين عظيمتين في غير إثم ولا قطيعة رحم؟ فقالوا: كلنا يحب ذلك يا رسول الله، فقال: لأن يذهب أحدكم إلى المسجد فيتعلم آيتين من كتابا لله خير له من ناقتين عظيمتين، وثلاث خير من ثلاث، وأربع خير من أربع، ومن أعدادهن من الإبل

apakah diantara kalian ada yang senang pergi ke Bathan (suatu lembah di Madinah) kemudian datang pulang membawa dua unta yang besar dengan tidak berbuat dosa dan tetap menyambung silaturahmi? Para sahabat menjawab: kami semua menyukai hal itu wahai Rasulullah. Maka Rasulullah bersabda: sungguh jika kalian pergi ke masjid lalu mempelajari dua ayat dari Al Qur’an itu lebih baik dari dua unta yang besar. Dan tiga ayat lebih baik dari tiga unta yang besar. Empat ayat lebih baik dari empat unta yang besar, dan seterusnya” (HR. Muslim no. 1336)

atau kira-kira demikian sabda beliau. Dan ini menunjukkan tentang keutamaan mempelajari Al Qur’an Al Karim dan membacanya.

Dan dalam hadits Ibnu Mas’ud:

من قرأ حرفاً من القرآن فله حسنة، والحسنة بعشر أمثالها

barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipat-gandakan sepuluh kali” (HR. At Tirmidzi no. 2835)

Demikian juga As Sunnah yang dipelajari seorang mukmin. Maka membaca hadits dan mempelajarinya juga akan mendapatkan pahala yang besar. Karena ini termasuk mempelajari ilmu. Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda:

من سلك طريقاً يلتمس فيه علماً سهل الله له به طريقاً إلى الجنة

barangsiapa menjalani jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim no. 4867)

Dan ini menunjukkan bahwa mempelajari ilmu dan menghafal hadits serta mudzakarah hadits termasuk sebab untuk masuk ke dalam surga dan sebab yang menyelamatkan dari neraka. Demikian juga sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

من يرد الله به خيراً يفقه في الدين

barangsiapa yang diinginkan kebaikan oleh Allah, akan Allah pahamkan ia dalam masalah agama” (HR. Al Bukhari 69, Muslim 1719)

Dan belajar ilmu agama itu bentuk mengikuti tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah. Dan mempelajari As Sunnah (hadits) merupakan tanda bahwa Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba. Sebagaimana mempelajari Al Qur’an juga demikian. Dan dalil-dalil untuk hal ini sangatlah banyak, walillahil hamd.

Penerjemah: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan Amanah

Menuntut ilmu merupakan suatu pekerjaan yang tidak perlu lagi diragukan akan keuntungan dan keutamaan yang akan diperoleh darinya. Menuntut ilmu merupakan ciri khas umat terakhir yang menghuni bumi ini, umat Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Betapa banyak ayat dan hadits yang membicarakan keuntungan mempelajari syariat Islam. Bahkan tidak ada seorang muslim pun yang berakal kecuali ia akan senantiasa berpesan kepada karib kerabat dan sahabatnya agar tidak lengah dari mempelajari syariat. Hal itu karena begitu besarnya keuntungan dalam aktifitas mempelajari syariat Islam.
Dalam Al-Quran, antara lain Allah pernah mengatakan,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah: 11)

Antara Orang Yang Ikhlas Dan Pengekor Hawa Nafsu

Faedah dari pengajian Syekh Prof. Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhailiy malam ini di masjid Nabawi. Beliau pengajar tetap di masjid Nabawi dan Guru besar di pasca sarjana jurusan Aqidah Univ. Islam Madinah KSA. Pembahasan yang beliau bahas dalam majelis beliau semalam seputar hadits berikut.
Dari ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ.

Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau menjelaskan bahwa seorang mujtahid yang keliru dalam ijtihadnya, ia mendapatkan pahala dikarenakan ia telah mencurahkan segala upaya, tenaga dan pikiran, untuk berusaha menepati kebenaran. Kekeliruannya bukan atas dasar kehendak dia dan bukan karena dorongan kesengajaan hati.

Berbeda dengan pengekor hawa nafsu, sejak awal yang ia inginkan bukan untuk menetapi kebenaran. Namun memang yang ia inginkan adalah menyelisihi kebenaran. Ia menyengaja dalam hal itu..
Di sinilah tampak keutamaan ikhlas.. Cukuplah keikhlasan hati sebagai kemuliaan.. Tulus dan bersihnya niat sebagai anugerah Allah terindah.. Yang mengangkat derajat seorang hamba di sisiNya. Bahwa orang yang ikhlas mendapatkan pahala pada setiap keadaan dan lika-liku kehidupannya. Benarnya berpahala…kelirunya juga mendapatkan pahala.

Dan cukuplah mengekor hawa nafsu itu sebagai musibah.. Setiap keadaan hidupnya adalah dosa. Benarnya dosa…kekeliruannya juga dosa.

(Lho bagaimana maksudnya, benarnya dosa, kelirunya juga dosa ?)
Begini sahabat… terkadang pengekor hawa nafsu keputusannya bersesuaian dengan kebenaran. Namun tindakan tersebut bukan karena dorongan niat yang tulus. Bukan pula karena memang menyengaja untuk menetapi kebenaran

Akan tetapi hanya karena faktor lain, seperti ndak enak dengan kawan karib. Atau sekedar fanatik kepada orang yang ia segani atau golongannya. Atau karena sesuai dengan kepentongannya. Jadi bukan karena niatan tulus untuk mengikuti kebenaran, namun semata karena menuruti keinginan hawa nafsu. Jadilah ia berdosa dalam benarnya dan berdosa salahnya. Disebabkan karena niat..
Berbeda dengan seorang yang ikhlas. Niatnya tulus, tujuannya luhur. Yaitu ingin menggapai kebenaran dengan mencurahkan segala uapaya. Tak berlebihan bila Syaikhuk Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,


أمرهم دائر بين الأجر والأجرين
“Seorang yang ikhlas dalam ijtihadnya mengagumkan memang. Perkara mereka senantiasa antara mendapat satu pahala atau dua pahala”
Madinah, 11 Dzulqa’dah 1435.

(Kajian Syaikh Ibrahim Arruhailiy, pembahasan kitab “Bahjatul Qulub Al-Abrar” karya Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah)

Penulis: Ahmad Anshori
Muraja’ah: Ustadz M. Abduh Tuasikal, ST, MSc
Artikel Muslim.Or.Id

5 Sifat Haji Mabrur

Haji mabrur itulah yang didambakan setiap orang karena balasannya tentu saja surga. Namun haji mabrur bukanlah suatu slogan atau titel. Ada beberapa sifat yang mesti dipenuhi, barulah seseorang yang berhaji bisa menggapai derajat mulia tersebut.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
Di antara umrah yang satu dan umrah lainnya akan menghapuskan dosa di antara keduanya dan haji mabrur tidak ada bahasannya kecuali surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349).
Hadits di atas disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani ketika mengawali pembahasan dalam kitab haji pada hadits no. 708. Hadits tersebut menerangkan mengenai keutamaan haji mabrur dan balasannya adalah surga.
Ibnu ‘Abdil Barr dalam At Tamhid (22: 39) mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak ada riya’ (ingin dipandang orang lain), tidak sum’ah (ingin didengar orang lain), tidak ada rofats (kata-kata kotor di dalamnya), tidak melakukan kefasikan, dan berhaji dengan harta halal.
Kita dapat katakan bahwa sifat haji mabrur ada lima:
  1. Ikhlas mengharap wajah Allah, tidak riya‘ dan sum’ah. Jadi haji bukanlah untuk cari titel atau gelar “Haji”. Tetapi semata-mata ingin mengharap ganjaran dari Allah.
  2. Berhaji dengan rezeki yang halal karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا
    Allah itu thoyyib (baik) dan tidaklah menerima kecuali dari yang baik” (HR. Muslim no. 1015).
  3. Menjauh dari maksiat, dosa, bid’ah dan hal-hal yang menyelisihi syari’at. Hal-hal tadi jika dilakukan dapat berpengaruh pada amalan sholeh dan bisa membuat amalannya tidak diterima. Lebih-lebih lagi dalam melakukan haji. Dalam ayat suci Al Qur’an disebutkan firman Allah,
    الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
    (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata kotor), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al Baqarah: 197).
  4. Berakhlak yang mulia dan bersikap lemah lembut, juga bersikap tawadhu’ (rendah hati) ketika di kendaraan, tempat tinggal, saat bergaul dengan lainnya dan bahkan di setiap keadaan.
  5. Mengagungkan syi’ar Allah. Orang yang berhaji hendaknya benar-benar mengagungkan syi’ar Allah. Ketika melaksanakan ritual manasik, hendaklah ia menunaikannya dengan penuh pengagungan dan tunduk pada Allah. Hendaklah ia menunaikan kegiatan haji dengan penuh ketenangan dan tidak tergesa-gesa dalam berkata atau berbuat. Jangan bersikap terburu-buru sebagaimana yang dilakukan banyak orang di saat haji. Hendaklah punya sikap sabar yang tinggi karena hal ini sangat berpengaruh besar pada diterimanya amalan dan besarnya pahala.
    Di antara bentuk mengagungkan syi’ar Allah, hendaklah ketika berhaji menyibukkan diri dengan dzikir, yaitu memperbanyak takbir, tasbih, tahmid dan istighfar. Karena orang yang berhaji sedang dalam ibadah dan berada dalam waktu-waktu yang mulia.
Demikianlah haji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ditilik, maka di dalamnya benar-benar berisi pengagungan terhadap syi’ar Allah. Itu nampak dari perkataan dan perbuatan beliau, semoga shalawat dan salam tercurahkan pada beliau.
Hanya Allah yang memberi taufik untuk menggapai haji mabrur.

ReferensiMinhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 5: 158-161.

Diselesaikan di pagi hari, 11 Dzulqo’dah 1434 H di Pesantren Tercinta Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id

Saturday, 22 June 2013

Permainan: Uji Otak Anda, Laki-laki atau Perempuan?

Ada sedikit permainan untuk menguji otak anda. Nanti kita lihat, apakah otak anda termasuk otak laki-laki atau perempuan dengan permainan ini. Lakukan dan jangan menipu diri anda sendiri ya. Sekedar permainan saja.
Coba anda tebak jumlah huruf 'F' dalam paragraf dibawah dalam waktu 15 detik:
Permainan: Uji Otak Anda, Laki-laki atau Perempuan?

8 Penyakit Yang Bisa Sembuh Dengan Berjalan Kaki

8 Penyakit Yang Bisa Sembuh Dengan Berjalan Kaki. Berjalan kaki ternyata manfaatnya banyak sekali. Jika selama ini anda belum terbiasa atau malam untuk berjalan, maka sebaiknya anda pikirkan kembali. Menurut satu penelitian, berjalan bisa mengurangi 8 jenis penyakit. Bahkan bisa menyembuhkan penyakit tersebut tanpa harus mengeluarkan uang.

4 Manfaat Dan Khasiat Pisang Yang Tidak Banyak Diketahui

Pisang merupakan buah tropis yang mudah kita temui di Indonesia. Selain itu, harganya pun juga relatif murah dibandingkan dengan buah lainnya. Namun, mungkin anda tidak menduga bahwa buah pisang yang biasa anda konsumsi sehari-hari itu ternyata memiliki seribu macam manfaat, mulai dari perlindungan kardiovaskuler, menjaga kesehatan mata, memperbaiki tulang, hingga mampu mencegah kanker ginjal.
4 Manfaat Dan Khasiat Pisang Yang Tidak Banyak Diketahui

[BACA] Kenali Tanda-Tanda Penyakit Dalam Tubuh Kita

Salah satu keajaiban tubuh manusia dan juga menjadi tanda kebesaran Allah adalah bahwa ketika ada penyakit yang bersarang dalam tubuh, anggota tubuh terluar kita memberikan tanda. Namun banyak dari kita yang belum tahu sinyal yang diberikan oleh mata, telinga, bibir dan lain-lain anggota tubuh kita.
Tanda-tanda adanya penyakit yang selalu kita rasakan berhubungan dengan fungsi tubuh yang lain. Bacalah untuk menilai sejauh mana kesehatan diri Anda karena informasi ini cukup bagus sebagai bahan rujukan. Apa pun, kalau ada masalah dengan tubuh cepat-cepat lah pergi ke dokter atau rumah sakit bahkan kalau penyakit itu mungkin anda rasakan hanya sebentar saja. Sebab mungkin itu adalah sebuah tanda atau petunjuk adanya penyakit yang lebih serius.
[BACA] Kenali Tanda-Tanda Penyakit Dalam Tubuh Kita

Fenomena Awan Tegak Lurus, Pertanda Apa?

Fenomena Awan Tegak Lurus Dan Gempa | Banyak orang melaporkan melihat awan vertical atau tegak lurus sebelum terjadi gempa, seperti Gempa / Tsunami Aceh dan Gempa Yogyakarta. Kemarin gempa Jepang juga (diduga) ditandai dengan adanya awan tegak, walaupun lokasinya sangat jauh. Awan menegak lurus (awan gempa) sampai saat ini masih menjadi isu perdebatan yang tidak berkesudahan.
Fenomena Awan Tegak Lurus, Pertanda Apa?

6 Manfaat Dan Keuntungan Berjilbab Dari Sisi Syariat dan Kesehatan

Di tengah kontroversi larangan berjilbab bagi Polwan di negeri ini, berikut ini blog berkah sampaikan beberapa manfaat dan keuntungan berjilbab bagi wanita muslimah.
Allah memerintahkan sesuatu pasti ada manfaatnya untuk kebaikan manusia. Dan setiap yang benar-benar manfaat dan dibutuhkan manusia dalam kehidupannya, pasti disyariatkan atau diperintahkan oleh-Nya. Di antara perintah Allah itu adalah berjilbab bagi wanita muslimah. Berikut ini beberapa manfaat berjilbab menurut Islam dan ilmu pengetahuan.